Tujuan Dan Fungsi Wayang Orang “Wayang Wong”

Adapun tujuan dan fungsi pertunjukan wayang orang atau wayang wong yaitu:

Sebagai seni pertunjukan untuk menyampaikan nilai-nilai dalam bentuk yang simbolis dan konotatif serta estetis.
Sebagai tontonan atau hiburan.
Turut menjaga dan mendukung eksistensi kesenian wayang orang.
Dalam perkembangan selanjutnya kemudian menggunakan penerangan lampu listrik serta menggunakan alat pengeras suara (sound system).  Semua alat berfungsi untuk membantu pertunjukan, baik untuk menerangi maupun mengatur suara dalam pertunjukan tari.  Penataan lampu sebenarnya bukan sekedar untuk penerangan semata, namun juga berfungsi untuk menciptakan suasana yang diinginkan, dan memberi daya hidup pertunjukan secara langsung, yaitu efek sinar lampu dapat memberi kontribusi pada suasana dramatik pertunjukan.  Dan secara tidak langsung memberi suasana/daya hidup pada busana penari dan perlengkapan lainnya.

Sedangkan penataan suara dapat dikatakan berhasil jika dapat menjadi jembatan komunikasi antara  pertunjukan dengan penonton, artinya penonton dapat mendengar dengan baik dan jelas tanpa gangguan apapun sehingga terasa nyaman menikmati pertunjukan tari.Wayang orang atau yang aslinya dalam dalam Bahasa Jawa disebut wayang wόng adalah salah satu jenis teater tradisional Jawa yang merupakan gabungan antara seni drama yang berkembang di Barat dengan pertunjukan wayang yang tumbuh dan berkembang di Jawa.

Jenis kesenian ini pada mulanya berkembang terutama di lingkungan keraton dan kalangan para priyayiJawa. Wayang wόng adalah sebuah pertunjukan seni tari drama dan teater yang mengambil cerita Ramayana dan Mahabarata sebagai induk ceritanya.Wayang orang yang digolongkan ke dalam bentuk drama seni tari tradisional.Sebutan wayang berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti bayangan.

Diketahui bahwa wayang orang lahir di Mangkunegaran dan Yogyakarta, sedangkan wayang orang panggung sebagai wayang orang komersil memang diciptakan diluar keraton.

Rustopo didalam bukunya “Menjadi Jawa” yang membahas sejarah  perkembangan wayang orang, menyebutkan bahwa wayang orang di Surakarta ini berasal dari tradisi pertunjukkan seni Pura Mangkunegaran yang pada awalnya dikembangkan oleh Pangeran Adipati  Mangkunegara I (1757-1796). Rustopo mengutip Soedarsono (R.M. Soedarsono, “Wayang Wong Drama Tari  Ritual Kenegaraan di Keraton Yogyakarta”) yang menyebutkan bahwa  Keraton Yogyakarta dan Pura Mangkunegaran adalah tempat kelahiran wayang  orang ketika kesusasteraan Jawa mengalami masa renaissance  pada abad ke 18-19, yang ditandai dengan penulisan kembali kakawin  (Jawa Kuno) dalam bahasa susastra Jawa Baru. Sesungguhnya kerajaan-kerajaan di Jawa Timur abad ke 10 hingga ke 15, sendratari wayang orang yang  menceritakan Ramayana dan Mahabarata ini juga sudah dikembangkan.

Wayang orang sebagai salah satu produk seni adiluhung kebudayaan Jawa, memiliki peran penting dalam menjadi suatu “identitas Jawa”. Adanya dua gagrak atau style (gaya) dalam garap seni pertunjukan wayang orang menunjukkan betapa sungguh kaya kebudayaan masyarakat Jawa. Walaupun sejatinya tak dapat dipungkiri, dua gaya yang berbeda tersebut lahir berkat lembar hitam sejarah politik adu domba penjajah pada masa lalu terhadap entitas tunggal Kesultanan Mataram.

Semua produk budaya Jawa yang awalnya hanya terdapat satu gagrak tunggal yaitu gagrak Mataram, akhirnya terpecah menjadi dua, yaitu gagrak Surakarta dan gagrak Yogyakarta. Masing-masing gaya memiliki sejarah, cerita perkembangan, dan dinamikanya sendiri, berawal dari balik tembok istana hingga tersebar grup wayang orang di beberapa kota di Indonesia.