Wayang Orang Gaya Surakarta

Diketahui bahwa wayang orang gaya Surakarta lahir di Pura Mangkunegaran, sedangkan wayang orang panggung sebagai wayang orang komersil memang diciptakan di luar keraton.
Adalah Pangeran Adipati Mangkunegara I, yang pada sekitar tahun 1757 menciptakan sebuah bentuk sendratari wayang orang, yang berfungsi sebagai sajian ritual Pura Mangkunegaran dan untuk “konsumsi dalam” para bangsawan saat itu. Penyebab pergeseran kedudukan seni wayang wong dari pertunjukan kaum elite menjadi pertunjukan bagi semua kalangan adalah keadaan keuangan Mangkunegaran yang mengalami kemerosotan dan kebijakan Mangkunegara VI dalam upaya mengembalikan perekonomian Mangkunegaran.
Diawalai pada masa pemerintahan Mangkunegara IV, Mangkunegaran mengalami masa kejayaan.Banyak didirikan perkebunan-perkebunan kopi dan tebu di wilayah Mangkunegaran serta pembangunan pabrik gula Tasikmadu dan Colomadu.Keberhasilan bidang ekonomi ini membawa Mangkunegara IV dalam mengembangkan bidang kesenian.Terbukti dengan hasil seni sastranya yang terkenal yaitu Serat Wedhatama.Dalam seni tari Mangkunegara IV menciptakan opera Langendriyan, fragmen-fragmen epos Ramayana dan Mahabharata, serta Beksan Wireng.Dalam dunia pewayangan menciptakan Kyai Sebet, yaitu wayang kulit pusaka Mangkunegaran dan pagelaran wayang madya.
Pada masa pemerintahan Mangkunegara V didukung oleh perekonomian yang kuat peninggalan dari Mangkunegara IV, Mangkunegara V bisa lebih fokus dalam mengembangkan dan menyempurnakan kesenian warisan dari Mangkunegara IV terutama kesenian wayang wong. Pada masa inilah kesenian wayang wong mengalami masa kejayaannya. Hal ini terbukti ketika Mangkunegara V mulai membuat standarisasi tata busana wayang wong dengan diilhami tata busana wayang purwa dan gambar Bima pada relief Candi Sukuh di Kabupaten Karanganyar.
Standarisasi busana ditunjukan dalam sebuah manuskrip yang berjudul “Pratelan Busananing Ringgit Tiyang”. Tidak hanya pada standarisasi tata busana, Mangkunegara V juga menciptakan naskah lakon dan pertunjukannya. Untuk melestarikan seni wayang orang di keraton ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit, tetapi ketika terjadi krisis ekonomi yang disebabkan oleh gagalnya panen kopi karena serangan hama dan bangkrutnya pabrik gula karena beredar luasnya gula bit di Eropa, akhirnya mengakibatkan kemerosotan kegiatan seni di Pura Mangkunegaran. Selain karena krisis keuangan, juga kegiatan seni wayang orang ini digolongkan sebagai kegiatan yang memboroskan.Akibatnya sebagian besar abdi dalem kesenian, termasuk abdi dalem wayang orang diberhentikan dan menganggur.
Merosotnya seni wayang orang di Mangkunegaran sebagai akibat dari krisis ekonomi di keraton ini menarik minat seorang pengusaha batik Tionghoa Surakarta yang bernama Gan Kam. Leluhur dan keluarga Gan Kam yang bernenek seorang wanita Jawa diketahui sejak lama mempunyai hubungan dekat dengan keluarga Pura Mangkunegaran.
Anggota keturunan keluarga Gan yang Muslim, apabila meninggal dunia jenazahnya dimakamkan di makam keluarga Gan di Desa Pajang pemberian Mangkunegara III sebagaipenghargaan atas jasa leluhur Gan kepada Mangkunegaran ketika terjadi Perang Jawa (1825-1830). Gan Kam berhasil merayu Mangkunegara V untuk memboyong wayang orang Mangkunegara keluar tembok istana untuk dipasarkan atau agar dapat dinikmati oleh orang kebanyakan dan penduduk kota.
Sekiranya Gan Kan tidak melanjutkan seni tradisi wayang orang tersebut diluar keraton, kemungkinan besar warisan seni wayang orang ini akan hilang untuk selamanya. Dan atas peranannya, seni wayang orang dari keraton itu bergeser menjadi bagian seni tradisi pertunjukkan masyarakat yang tidak sakral lagi (desakralisasi) atau menjadi pertunjukkan hiburan yang bersifat komersil dan populis dalam bentuk wayang panggung (komersil).
Pada tahun 1895, Gan Kam yang dikenal sebagai perintis yang mempopulerkan wayang orang Mangkunegaran membentuk rombongan wayang orang komersil pertama yang sebagian besar pemainnya direkrut dari mantan abdi dalem penari wayang orang Mangkunegaran yang diberhentikan.
Ada perbedaan antara wayang orang Mangkunegaran dengan wayang orang panggung. Atas izin Mangkunegara V, Gan Kam mengemas pertunjukkan wayang orang dalam durasi waktu yang agak pendek, lebih mementingkan dialog daripada tarinya, sehingga dapat menghibur penonton. Garapan tari yang terlalu halus, rumit dan lama yang dianggap dapat membosankan penonton dikurangi. Kalau peranan tokoh wayang orang di Pura Mangkunegaran semuanya dimainkan oleh laki-laki (termasuk tokoh wanitanya), maka pada wayang orang panggung, peranan tokoh laki-laki tertentu (alusan) seperti Arjuna, Abimanyu, Wibisana, dan yang sejenisnya diperankan oleh penari perempuan (dengan alasan-alasan tertentu yang terlalu panjang kalau disebutkan).
Diketahui ketika itu bahwa banyak penduduk Tionghoa di sekitar Surakarta, Yogyakarta, Semarang, Madiun, dan lainnya menjadi penggemar-penggemar wayang orang dan kerawitan Jawa.Tidak jarang bahwa suatu waktu deretan kursi-kursi terdepan di Gedung Wayang Orang Sriwedari seolah-olah menjadi milik nyonya-nyonya Tionghoa, karena sudah dipesan atau diabonemen sebelumnya. Gan Kam, bapak pendiri wayang orang panggung (komersil) itu meninggal dunia pada tahun 1928.
Sumber : https://www.dosenpendidikan.co.id/wayang-orang-adalah/
Sumber : https://www.dosenpendidikan.co.id/wayang-orang-adalah/
0 Komentar