Penciptaan, Sumber Cerita dan Gambaran Tari Wayang
Suatu karya seni terwujud atas dasar adanya kreatifitas yang lahir dari
seorang seniman. Hawkins (1991, hlm.6) mengungkapkan bahwa “Creativity
implies imaginative though; sensing, feeling, imaging, and searching for truth”. Hal
tersebut berarti bahwa kreatifitas menyangkut pada pemikiran imajinatif, yang
meliputi; merasakan, menghayati, menghayalkan, dan menemukan kebenaran.
Selain itu, diungkapkan pula oleh Saini (1999, hlm. 21) bahwa “Proses kreatif
merupakan pertemuan dan pergulatan ganda, yaitu antara kesadaran manusia
dengan realitas disatu sisi dan kesadaran dan keterampilan manusia dengan medium
atau media di sisi lain”. Dari upaya pengungkapan kreatifitas yang muncul pada
seniman tersebutlah kemudian lahir inovasi. Kadar nilai estetis dalam proses kreatif
seni akan tergantung pada tujuan, maksud, dan kemampuan seniman itu sendiri.
Secara tidak langsung, seorang seniman akan membutuhkan tempaan dalam jangka
waktu yang panjang untuk mengungkapkan atau menampilkan karya seni yang
berdasarkan pada pilihan pribadinya atau gaya khas pribadinya. Rd. Ono senantiasa
menambah wawasan dan pengalaman-pengalamannya dengan cara belajar kepada
guru-gurunya. Berkat tempaan dari berbagai guru maka bakat serta keseriusan
dirinya, gaya ungkap estetis Ono tercurah melalui karya-karya tari yang tertuang
dalam rumpun tari wayang karakter satria ladak.
Berbeda halnya dengan yang diungkapkan oleh Murgiyanto (2004, hlm. 4)
bahwa “bekal kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh seniman ada tiga yaitu
teknik, pengetahuan dan logika, dan kepekaan rasa”. Teknik ditujukan untuk menguasai bahan (tarian). Artinya seorang creator atau seniman harus mampu
menggunakan tubuhnya untuk memikat penonton dan menyampaikan pengalaman
estetisnya. Selain itu juga perlu ditingkatkan unsur pengetahuan dan logika,
pemahaman tarian yang dibawakannya mulai dari latar belakang pencitaan, latar
belakang cerita dan sebagainya. Kepekaan rasa dituangkan dengan melakukan
gerak tari yang seperasaan dan saling mengisi dengan musik pengiring (Sumiati,
2004, hlm. 91).
Kreatifitas para seniman terdahulu, termasuk Rd. Ono biasanya memiliki
keunikan tersendiri. Terdapat dua macam keunikan, yaitu gaya daerah dan gaya
menari perseorangan. Muncul keberagaman gaya dari setiap genre tari Sunda di
setiap daerah. Dari kiprahnya insan-insan “local genius” yang muncul di setiap
lingkungan atau kelompok inilah yang kemudian terus menurun kepada murid-
muridnya secara individual. Local genius ini fokus untuk menemukan gaya atau
style menari secara individu. Gaya individu ini berhasil diserap oleh masyarakat
sehingga luluh lebur menjadi milik daerahnya. Rd. Ono sendiri telah berhasil
menciptakan gaya atau style-nya yang kemudian terus menurun kepada murid-
muridnya. Kekhasan gaya Rd. Ono ini sering disebut dengan tari wayang gaya
Sumedangan (Rusliana, 2002, hlm. 1).
Suatu hal yang penting bagi seniman adalah ketika ia bisa menangkap
keinginan masyarakat, selama hal tersebut tidak menurunkan kualitas dari karya-
karya yang dibuatnya. Sebagaimana diungkapkan oleh Rathus (dalam Sumiati,
2015, hlm. 33) bahwa “arti seni (meaning of art) memuat tiga aspek yakni, (1) as
ability, (2) as process, dan (3) as product (arti seni adalah sebagai kemampuan,
sebagai proses, dan sebagai produk)”. Rd. Ono berkarya dalam bidang seni tari
tidak lepas dari adanya suatu tujuan dan maksud yaitu untuk memenuhi kebutuhan
materi kursus tari. Dalam memenuhi kebutuhan tersebut sebagai sebuah produk tari
tidak dapat lepas dari adanya tuntutan untuk menciptakan keindahan, harmoni,
untuk merefleksi konteks sosial dan budaya, dan untuk kebutuhan seniman. Dalam
seni tari, gerak-gerak disusun sedemikian rupa sesuai dengan filosofis, latar
belakang cerita, gambaran tarian, karakter tarian, dan jenis tarian sebagai gagasan
awal. Proses penyusunan sampai menghasilkan suatu produk tari idealnya diharapkan dapat abadi. Oleh karena itu dalam pebuatan karya tari tersebut harus
mampu membaca keinginan masyarakat. Pada tahun 1940-an masyarakat sedang
gandrung-gandrungnya terhadap pertunjukkan wayang.
Untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan tersebut, dalam berkarya Rd. Ono
lebih mementingkan desain sikap gerak yang menggunakan satu pola irama. Upaya
tersebut dimaksudkan agar penari pemula dapat mempelajari tarian dengan mudah.
Dari banyaknya tarian yang diciptakan Rd. Ono, yang paling banyak diciptakan
adalah tari wayang. Menurut Ukanah (dalam Sumiati, 2004, hlm. 99) bahwa hal
tersebut terjadi disebabkan oleh gejala yang terjadi pada masyarakat Sumedang
yang pada saat itu sangat menggandrungi tokoh-tokoh yang terdapat dalam Wayang
Golek. Ide cerita yang diambil oleh Rd. Ono pun merupakan cerita yang lebih
memperhatikan situasi dan kondisi yang terjadi pada lingkugan yang kemudian
dikaitkan dengan cerita wayang. Berikut ini merupakan pemaparan mengenai
tarian-tarian wayang karya Rd. Ono, yaitu:
a. Tari Gambir Anom
Makna yang bisa ditafsirkan Rd. Ono terhadap tokoh ini di antaranya tuntutan
seorang putra untuk lebih banyak berkreativitas dalam rangka mengisi dan
mengembangkan potensi dirinya. Tarian ini hadirnya dilatar belakangi oleh
kebutuhan pagelaran Wayang Wong pada tahun 1926. Untuk mewujudkan
tarian secara utuh dan maksimal, maka pada tahun 1959 tari ini ditata kembali
dan dibakukan koreografinya. Gambir Anom adalah nama lain dari Abimanyu
yang merupakan salah seorang anak Arjuna dari Sewi Subadra, cerita ini
terdapat dalam Mahabrata. Tarian ini menggambarkan Abimanyu sedang
gandrung kepada Siti Sundari (Sumiati, 2004, hlm 93-98).
b. Tari Srikandi
Tari ini diciptakan karena ada kebutuhan peran dalam Wayang Wong sekitar
tahun 1930-an. Pada waktu itu Rd. Ono berinisiatif untuk menggunakan
koreografi Tari Gawil tetapi di sini lebih disesuaikan lagi dengan sifat-sifat
perempuan. Baru pada tahun 1958 tarian ini mengalami perbaikan dan
pembakuan. Srikandi adalah putri Prabu Drunada raja dari kerajaan Cempalareja dari permaisuri Dewi Gandawati yang diperistri oleh Arjuna.
Tema ini merupakan transformasi dari cerita Wayang Mahabrata. Tari ini
menceritakan Dewi Srikandi yang sedang mengejar Dewi Mustakaweni dari
Manimantaka yang mencuri jimat laying kalimusada (Rusliana, 2012, hlm, 67).
c. Tari Adipati Karna
Tari ini disusun pada tahun 1939 ketika Rd. Ono menjabat sebagai Lurah di
Kota Kulon Sumedang, dan mulai dibakukan serta diajarkan pada tahun 1955-
an. Tari Adipati Karna ini ciptakan karena ketertarikan Rd. Ono terhadap tokoh
Adipati Karna. Sosok Adipati Karna tersebut mencerminkan pribadi yang
berjiwa setia terhadap kewajiban, berani menantang dan menghadapi musuh.
Adipati Karna adalah seorang satria dari pihak Kurawa, anak dari Dewi Kunti
dan Batara Surya dari cerita Mahabrata. Cerita dari ide penggarapan tarian ini
yaitu adalah penggambaran Adipati Karna pada waktu sedang gandrung kepada
Surtikanti. Tarian ini bertemakan sedang kasmaran (Rusliana, 2012, hlm 71-
90).
d. Tari Jayengrana
Perancangan tari ini sudah dilakukan sejak tahun 1942 namun tari ini baru
terwujud secara utuh pada tahun 1946. Pada masa tersebut suasana msyarakat
sedang tertekan di bawah kekuasaan Jepang, namun tidak menghentikan upaya
kreatifnya dalam menciptakan karya tari. Kemudian terciptalahoTari
Jayengrana ini penciptaannya terilhami oleh langkah-langkah anak ayam ketika
sedang berebut makanan dengan induknya. Langkah-langkah anak ayam
tersebut dinamikanya cepat dan kecil-kecil (incid alit). Selanjutnya Rd. Ono
mengaplikasikan hal ini ke dalam gerak langkah kaki dengan dinamika dan
jarak melangkah kecil-kecil. Hubungan gerak dengan karakter dan suasana
tema yang akan diungkapkan sangatlah harmonis, sehingga tidak
mengherankan apabila dalam tari Jayengrana terdapat banyak langkah-langkah
kaki cepat, lincah dan ringan. Dalam istilah tari Sunda gerak ini sering disebut
dengan minced alit atau minced galayar. Rd. Ono merancang untuk membuat sebuah tarian yang ide ceritanya diambil dari Serat Menak, yang akhirnya jadi
Tari Jayengrana. Tarian ini merupakan gambaran kegembiraan Jayengrana
ketika bebas dari penjara Raja Kanjun. Kejadian ini tidak lepas dari bantuan dua
putri cantic yaitu kekasihnya yang bernama Sudarawerti dari negara Parang
Akik dan Sirtupulaeli dari negara Kursenak. Tarian ini bertemakan
kegembiraan (Sumiati, 2014, hlm. 122).
e. Tari Jakasona
Tari Jakasona diciptakan oleh Rd. Ono pada tahun 1947 hingga tahun 1948.
Tari ini dibuat dengan alasan kebutuhan materi untuk bahan ajar di sanggar
Sekar Pusaka. Adapun bentuk dan isi dari tarian ini disesuaikan dengan selera
masyarakat pada masa itu yang lebih menyukai tari-tarian dinamis. Ide cerita
tarian ini diambil dari legenda Sangkuriang dan digarap bentuknya memakai
konsep Tari Wayang. ciri yang paling Nampak terlihat pada busana yang
memakai makuta gelung pelengkung. Nama tarian ini diambil dari nama
Sangkuriang semasa kecil. Tari ini menggambarkan seorang pemuda yang
sedang berkelana dan biasa hidup mandiri dengan penuh dedikasi tetapi ia
mengalami kekecewaan dalam bercinta (Sumiati, 2004, hlm. 93-98).
f. Tari Ekalaya
Tari Ekalaya ini diciptakan pada tahun 1954. Tari ini dibuat dengan tujuan
untuk menghindari kebosanan para peserta kursus dalam mempelajari Tari
Samba yang berkarakter lenyep dan lungguh jua durasi tariannya terlalu
panjang. Oleh karena itu, Rd. Ono berinisiatif untuk mengembangkan Tari
Samba dalam bentuk lain dan sekaligus menjadikannya sebagai materi dasar
untuk penari pemula, kemudian bentuk ini diberi nama Tari Ekalaya. Sumber
cerita Tari Ekalaya diambil dari Mahabrata, dan makna yang diambilnya dari
bagian cerita ini yaitu tentang ketaatan seorang murid kepada gurunya.
0 Komentar