Perkembangan Tari Wayang

Seiring berjalannya waktu, sepanjang perjalanan hidup Rd. Ono selalu
diwarnai dengan hadirnya karya-karya tari. Tak heran jika hingga akhir hayatnya,
ia meninggalkan banyak karya tari termasuk tari wayang yang akan selalu dikenang
baik masyarakat, baik oleh anak-anak, remaja hingga orang dewasa. Rd. Ono
sebagai generasi penerus, setelah lama berkecimpung dalam dunia tari kemudian
berhasil menghidupkan kembali dan mempopulerkan tari wayang kepada
masyarakat di Sumedang. Ia menciptakan tari wayang yang bersumber dari cerita
wayang purwa, cerita pantun dan cerita wayang ménak. Tari wayang berusaha
diayomi dan diperkenalkan kepada masyarakat oleh Rd. Ono, salah satu caranya
adalah melalui pelatihan-pelatihan tari.
Kesungguhan Rd. Ono dalam mempelajari dan mengembangkan tari
dimulai sejak ia dipercaya sebagai pelatih tari pada 1 Februari 1924 di perkumpulan
seni Sekar Pusaka. Sanggar tari ini terwujud atas prakarsa bupati Sumedang yaitu
R. Tumenggung Kusumadilaga (1919-1937). Namun kiprah Rd. Ono ini dimulai
pada tahun 1934 hingga tahun 1942 dengan meneruskan dan mendirikan kembali
sanggar Sekar Pusaka. Selama delapan tahun Rd. Ono mengasuh anak didiknya
yang berjumlah 600 orang dengan menggunakan fasilitas gedung Srimanganti.
Pada waktu itu selain mengajarkan tari karyanya, Rd. Ono juga bekerja sebagai
Kepala Desa Kota Kulon (Sumiati, 2014, hlm. 128)
Pada tahun 1942 hingga tahun 1949 kegiatan seni Sanggar Sekar Pusaka
sempat mengalami kefakuman karena situasi negara yang sedang dijajah oleh
Jepang. Setelah situasi dan kondisi negara mulai aman, Rd. Ono kembali
bersemangat dalam mengembangkan tari wayang. Setelah kemerdekaan 1945
diraih oleh bangsa Indonesia, kesempatan Rd. Ono untuk menjelmakan karyanya
mulai dirintis lagi. Pada tahun 1950 hingga 1953, Rd. Ono kembali menerima
peserta kursus tari dengan memanfaatkan gedung Sitet atau yang kini dikenal
sebagai Gedung Graha Insun Medal (GIM) sebagai tempat untuk berlatih. Peserta
yang berpartisipasi berasal dari berbagai kalangan, baik itu para siswa dari Sekolah
Rakyat, SMP maupun SGB. Pada saat itu tercatat terdapat 500 orang yang
mengikuti kursus tari dengan Rd. Ono. Sisa-sisa birokrasi tradisional yang
bermuara pada kaum ménak masih melekat. Rd. Ono yang masih bekerja sebagai camat masih memiliki karisma sehingga antusiasme masyarakat untuk mengikuti
kursu tari cukup tinggi (Sumiati, 2015, hlm. 33).
Hal tersebut juga diungkapkan oleh cucu Rd. Ono yaitu R. Widawati bahwa
memang pada saat itu begitu besar antusiasme dari masyarakat terhadap tari
wayang. Antusiasme masyarakat terhadap tari wayang tersebut khususnya
masyarakat Sumedang sangat dirasakan dampaknya oleh Wida hingga kini. Terlihat
dari bagaimana masyarakat sangat mengenal sosok R. Ono yang pada saat itu selain
mengajar tari juga berprofesi sebagai camat sehingga sering disebut Camat Ono.
Khususnya di wilayah sekitar Situraja, Rd. Ono sangat dikenal, mungkin karena
beberapa muridnya berasal dari sana dan ikut mengembangkan tari wayang karya
R. Ono di wilayah Situraja. Begitu teringat oleh Wida pada saat itu bagaimana GIM
(Gedung Insun Medal) sebagai tempat yang cukup besar kapasitasnya dipenuhi oleh
orang-orang yang ingin belajar tari wayang, sedangkan pengajar tarinya hanya
seorang yaitu kakeknya sendiri, Rd. Ono (Wawancara, Widawati, 17 Januari,
2017).
Selain bakatnya dalam menari, ia juga dilengkapi dengan kepiawaiannya
dalam mengembangkan dan menerapkan tari wayang kepada masyarakat di mana
pun ia berada. Pekerjaannya sebagai PNS, terutama ketika menjadi lurah dan camat
sangat menunjang dalam merekrut masyarakat untuk bergabung dalam sanggarnya.
Cara yang efektif untuk mengembangkan tari hasil karya-karyanya segera
terealisasi. Apalagi seni tradisi pada waktu itu sedang mengalami masa
kejayaannya, sehingga seluruh masyarakat menggandrunginya. Seperti pada tahun
1954 hingga tahun 1956, Rd. Ono diangkat sebagai camat di Tanjungsari. Meskipun
Rd. Ono memiliki kesibukan dengan tugasnya sebagai camat, namun ia tetap
menyisihkan waktu untuk mengajarkan tari. Terbukti dalam masa tugas Rd. Ono
yang hanya dua tahun namun peserta yang mengikuti kursus tari di wilayah
Tanjungsari cukup banyak, jumlahnya mencapai 300 orang (Sumiati, 2014, hlm.
128-129).
Kegiatan Rd. Ono dalam berkesenian tidak lepas dari undangan untuk
mengadakan pergelaran di berbagai daerah. Pergelaran tersebut diperuntukkan
sebagai hiburan masyarakat umum, menghibur tentara, dan lain-lain. Dalam rangka mengisi acara di lingkungan pemerintahan, biasanya bertempat di kabupaten,
gubernur dan istana negara. Pada tahun 1950 sampai dengan tahun 1957, Rd. Ono
sering di panggil ke Istana Negara untuk mempertunjukkan karya-karyanya. Para
penari yang sering mengisi dan menyambut tamu dari luar negeri di Istana negara
adalah murid-murid Rd. Ono, di antaranya; Emin, Oja, Tuti, dan Sukma.
Selain itu, Rd. Ono juga pernah mengajarkan tari wayang di kelompok seni
Ekayana yang dipimpin oleh Duyeh di Jakarta. Terkadang pada saat itu juga salah
seorang pelatih Ekayana sengaja datang ke Sumedang untuk menyadap tari karya
Rd. Ono. Maka dari itu secara tidak langsung sebagian masyarakat Jakarta ikut
menyenangi tari wayang karya Rd. Ono dan ikut mempelajarinya. Pada tahun 1957
hingga tahun 1959, Rd. Ono kembali dimutasi menjadi camat di Conggeang.
Kepindahannya ini menjadi kesempatan baik bagi Rd. Ono untuk terus berupaya
mengembangkan tari-tari ciptaanya serta mentransferkan kepiawaiannya dalam
menari kepada orang lain. Di Conggeang Rd. Ono mendapat sambutan yang sangat
baik. Hal tersebut terlihat dari banyaknya orang yang mengikuti kursus tari dengan
Rd. Ono (Sumiati, 2014, hlm. 129-130)
Jumlah peserta kursus tari di Conggeang pada saat itu mencapai 400 orang
peserta. Ketika tiba masa pensiun Rd. Ono sebagai PNS pada tahun 1960,
perhatiannya semakin tercurah penuh pada usahanya dalam membina dan
mengembangkan seni tari khususnya tari hasil ciptanya. Perkembangan tari wayang
yang paling pesat memang terjadi ketika Rd. Ono telah pensiun. Pada masa ini
peserta yang mengikuti kursus tari dengan Rd. Ono sangat banyak jumlahnya,
mencapai 960 orang. Peserta tari tersebut berasal dari berbagai tingkat usia mulai
dari tingkat SD, SMP, SMA, dan masyarakat umum. Gedung nasional dipilih
sebagai tempat latihan karena dianggap sebagai tempat yang cukup memadai untuk
menampung para peserta kursus tari sebanyak itu. Kegiatan tersebut berlangsung
hingga tahun 1971 (Wawancara, Wida, 17 Januari 2017).
Tahun 1960 hingga tahun 1971 dianggap sebagai masa keemasan bagi
perkembangan tari wayang karya Rd. Ono di Sumedang. Selain pada masa tersebut
antusiasme masyarakat dalam mengikuti kursus tari sangat tinggi, tari wayang
karya Rd. Ono ini juga telah menyebar ke seluruh pelosok Sumedang. Bahkan terdapat pula murid Rd. Ono yang pernah belajar tari wayang ke Sumedang berasal
dari daerah Majalengka dan Indramayu. Kemudian dalam rangka penyebaran dan
perkenalan tari wayang karya Rd. Ono, ia sering menjadi duta seni dalam berbagai
acara. Salah satunya dalam acara Muhibah Siliwangi yang di adakan di Yogyakarta
pada tahun 1962. Dalam acara tersebut Rd. Ono menampilkan tari Jayengrana.
Kemudian pada tahun 1970, Rd. Ono mengikuti Expo ke Jepang dengan membawa
materi Tari Gatotkaca dan Tari Jayengrana yang pada saat itu dibawakan oleh Elia
Marliah dan kawan-kawan (Sumiati, 2004, hlm. 35).
Pada tahun 1960 hingga tahun 1970 Rd. Ono sering mempertunjukkan
tarinya di berbagai kota seperti Istana Bogor, Sukabumi (dalam acara pembukaan
Samudra Beach Hotel), Istana Kesultanan Yogyakarta, Garut, Tasikmalaya,
Cirebon, Kuningan, Majalengka, Ciamis, Serang, dan masih banyak lagi kota-kota
lainnya. Selain dikota-kota tersebut, Rd. Ono dengan sanggar Sekar Pusakanya
sering mempertunjukkan tari wayang di berbagai event seperti: pada acara Pekan
Raya Jakarta, Muhibah Siliwangi yang di adakan di Yogyakarta di Hotel Indonesia,
Wisma Warta, Taman Ismail Marzuki, Balai Kota, TVRI dan di berbagai event lainnya.
Selanjutnya Tati Yusran (Wawancara, 2017) mengemukakan bahwa:
Ti zaman ibu ge memang banyak pertunjukkan tapi dalam artian pertujukan
di daerah-daerah, dihajatan, dinikahan, terus pami pertunjukkan nu
ditampilkan secara khusus sebagai sebuah “Show” mah jarang pas zaman
bapa mah. Paling ge diundang ku kanjeng dalem Sukabumi di Bandung,
anjeuna kasumpingan tamu ti negeri Belanda, ngundang bapak.
Diantarana nu tampil teh ibu. Teu aya penonton tapi khusus we istilahna
mah nyuguhan nembongkeun seni tari klasik sumedang di bumina kanjeng
Sukabumi di Jl. Dipatiukur. (Pada zaman ibu juga memang banyak
pertunjukkan tapu dalam artian pertunjukkan yang ditampilkan secara
khusus sebagai sebuah “show” itu jarang dilaksanakan pada zaman Bapak.
Paling diundang oleh Kanjeng Dalem Sukabumi di Bandung. Bapak
diundang apabila beliau sedang kedatangan tamu dari negeri Belanda, dan
salah satu yang tampil pada acara tersebut adalah ibu. Tidak ada penonton
karena tarian tersebut diperuntukan untuk menyambut dan memperkenalkan
seni tari klasik Sumedang di kediaman Kanjeng Sukabumi di Jl. Dipatiukur.
Terj. oleh peneliti).
Dari ungkapan tersebut dapat dijelaskan bahwa memang di tahun 1960-an
merupakan masa yang paling berkembang dari tari wayang. Hal tersebut terlihatdari banyaknya permintaan kepada Rd. Ono untuk menampilkan tari wayangnya.
Seperti juga yang diungkapkan oleh Tati Yusran sebelumnya bahwa pada masa
ketika ia menjadi murid Rd. Ono yaitu sekitar tahun 1960-an banyak pertunjukkan
yang mempertunjukkan tari wayang Rd. Ono. Meskipun pertunjukkan tersebut
bukan berbentuk pagelaran yang khusus dipertunjukkan kepada masyarakat, namun
pertunjukkan di berbagai acara seperti khitanan, pernikahan atau penyambutan
tamu penting.