Wayang dan Gamelan
Fungsi wayang dan gamelan yang mendua sebagai hiburan dan sebagai sarana ritual terus berlangsung sejak zaman kolonial sampai sekarang. Hal inilah yang membuat wayang dan gamelan sangat digemari masyarakat golongan menengah atas, maupun bawah. Gamelan kecuali dapat dimainkan secara mandiri, dapat pula berfungsi sebagai pengiring pertunjukan tari, wayang, atau upacara. Wayang dan gamelan banyak dipertunjukkan di dalam perayaan sosial atau keluarga seperti memperingati tujuh bulan kehamilan, lima hari sehabis melahirkan, khitanan, dan perayaan serta upacara pengantin. Wayang juga dipertunjukkan dalam konteks upacara agama dan spiritual seperti ruwatan, nadaran, kematian, ngunjung, sedekah bumi, dan bersih desa.Tetapi wayang juga dipertunjukkan di dalam perayaan-perayaan sekular yang diselenggarakan oleh kantor pemerintah, untuk memperingati hari kemerdekaan RI, pembukaan atau penutupan konferensi, pembangunan pasar, sekolah, jembatan, penyuluhan Keluarga Berencana, dan Kampanye Pemilihan Umum.
Oleh karena itu tidak mengherankan jika karya karawitan terbagi dalam dua kategori. Pertama yang lebih menghibur untuk konsumsi masyarakat luas, kedua karya-karya kontemporer yang elitis. Semasa Orde Lama, kedua empu karawitan KRT Wasitodipuro dan RL Martopangrawit merupakan contoh dari golongan pertama, keduanya akhirnya masuk kampus: RL Martopangrawit mengajar di STSI Surakarta dan KRT Wasitodipuro mengajar gamelan di California Institut of the Arts (Valencia, Ca, AS). KRT Wasitodipuro yang sebelumnya memimpin kelompok karawitan RRI Yogyakarta dan Istana Paku Alaman, sampai tahun 1970-an aktif mencipta gending-gending pengiring tari Karya Bagong Kussudiardja. Semasa di AS karya musiknya pernah diputar di luar ruang angkasa untuk menghibur kelompok astronaut Amerika. Tokoh serupa dari Bali yang juga berperan sebagai pengajar adalah I Wayan Beratha yang karyanya dipakai mengiringi sendratari-sendratari yang diciptakan tim seniman Kokar Bali.
Tokoh karawitan dari golongan kedua adalah Ki Nartosabdo dari Semarang yang juga seorang dalang kondang. Karya-karya Ki Nartosabdo yang dipopulerkannya sendiri lewat rekaman atau pertunjukan wayang dikenal luas karena upayanya memadukan unsur-unsur musikal Jawa, Sunda, Bali (Wandali) dan daerah-daerah lain.
Karya-karya gamelan kontemporer dimotori oleh seniman-seniman, pengajar dan mahasiswa perguruan tinggi seni yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Dua perguruan tinggi seni yang unggul di bidang penciptaan karawitan adalah Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta dan Denpasar, Bali. Penyebaran dan pengenalan karya-karya gamelan eksperimental semacam ini dimulai Dewan Kesenian Jakarta melalui forum Festival Komponis Muda yang pertama kali diadakan tahun 1979, di TIM. Beberapa nama komponis unggulan yang muncul dari forum ini adalah R Supanggah, I Wayan Sudra, Pande Made Sukerta, AL Suwardi, Komang Astita, Nyoman Windia, dan Nano Suratno. Melalui karya gamelan kontemporer, seniman karawitan kita memasuki forum kerjasama antar bangsa. Paruh kedua dekade 1990-an ini R Supanggah menyusun musik untuk pentas teater antar bangsa Lear yang disutradarai Ong Keng Sen dari Singapura dan dimainkan oleh seniman pelaku dari 6 negara; Jepang, Cina, Thailand, Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Komang Astita dan Nyoman Winda menggarap musik pengiring balet modern Bhima oleh penata koreografer Ulf Gadd dari Swedia.
Yang menarik di dekade 1990-an adalah munculnya genre musik tradisi populer "Campursari" yang memadu instrumentasi gamelan dengan keyboard dan alat-alat musik Barat lainnya. Sajian mereka berada di antara musik keroncong dan gamelan Jawa. Salah seorang pelopor di bidang ini adalah Manthous yang rekaman dan pertunjukannya sangat laku di kalangan masyarakat Jawa. Untuk jenis gamelan populer semacam ini di Jawa Barat perlu dicatat Gugum Gumbira dengan Jugalanya. Terakhir pentas disebut karya Jaduk Ferianto yang memanfaatkan dengan pintar berbagai instrumen perkusi daerah yang didominasi gamelan Jawa dan Bali. Karya musik dan penampilan Jaduk bersama kelompok Kua Etnika berada di batas kontemporer dan populer.
Karena fungsinya yang mendua-sebagai sarana upacara dan hiburan-wayang merupakan satu-satunya seni tradisi yang tak lekang diterpa terik mentari. Pada awal kemerdekaan, wayang baru dicipta sebagai alat promosi berbagai pihak. Ada wayang suluh yang mengisahkan masa-masa revolusi dan perjuangan kemerdekaan, wayang wahyu yang bercerita tentang Yesus, wayang kancil tentang dongeng binatang, wayang Diponegoro untuk mempopulerkan pahlawan Diponegoro, dan sebagainya. Ketika Golkar berkuasa, lagi-lagi wayang dikooptasi. Sejumlah pakar dan seniman dari perguruan tinggi seni menuliskan lakon Waringin Kencono atau Beringin Emas, misalnya.
Dekade 1970-an Ki Nartosabdo merajai pasar karena kemampuannya bermain gamelan, menciptakan gending baru, dan kepiawaiannya melucu sepanjang lakon. Tentang figur boneka wayang tidak pernah ada perubahan berarti. Kecuali sebuah upaya oleh perupa Sukasman dari Yogyakarta yang memperbaharui bentuk hiasan, dan wanda (wajah) sejumlah tokoh. Sukasman harus menunggu cukup lama kesedihan seorang dalang memainkan wayang-wayangnya.
Kecenderungan untuk memenuhi permintaan pasar telah memaksa banyak dalang melakukan langkah "kreatif" dari yang wajar sampai yang tak benar. Penggunaan dua layar lebar, sound-system yang membahana, penataan lampu-lampu panggung secara modern, mengundang sederet waranggono, penyanyi dangdut, penari, dan masih banyak lainnya lagi. Ada kecenderungan "anything goes" bisa memikat pemirsa. Wayang kulit purwa sedang berubah dari sebuah ekspresi budaya menjadi produk atau barang dagangan. Dua dalang yang memasuki milenium ketiga ini paling digemari dan mahal adalah Ki Manteb Soedharsono dan Ki Anom Suroto.
Karya atau pementasan wayang eksperimental atau kontemporer yang elite dilakukan oleh seniman-seniman kampus. Pergelaran pakeliran padat, wayang sandosa (STSI Surakarta), wayang listrik (STSI Denpasar, Bali) merupakan sedikit contohnya. Eksperimen pertunjukan wayang yang menarik dilakukan oleh dalang muda I Made Sidia dari STSI Denpasar bekerja sama dengan Ken Deveraux dari Chicago, AS. dengan menggunakan media elektronik dan komputer. Sayang sekali hasilnya yang menarik tak bisa dilihat di Indonesia. Sementara eksperimentasi melaju-walau sporadis dan tergantung undangan-pertunjukan wayang di Bali tetap memiliki fungsi ritual. Kenyataan ini memungkinkan wayang Bali tetap tinggal sebagai ekspresi budaya, tetapi kurang berdaya di pasar.
Oleh karena itu tidak mengherankan jika karya karawitan terbagi dalam dua kategori. Pertama yang lebih menghibur untuk konsumsi masyarakat luas, kedua karya-karya kontemporer yang elitis. Semasa Orde Lama, kedua empu karawitan KRT Wasitodipuro dan RL Martopangrawit merupakan contoh dari golongan pertama, keduanya akhirnya masuk kampus: RL Martopangrawit mengajar di STSI Surakarta dan KRT Wasitodipuro mengajar gamelan di California Institut of the Arts (Valencia, Ca, AS). KRT Wasitodipuro yang sebelumnya memimpin kelompok karawitan RRI Yogyakarta dan Istana Paku Alaman, sampai tahun 1970-an aktif mencipta gending-gending pengiring tari Karya Bagong Kussudiardja. Semasa di AS karya musiknya pernah diputar di luar ruang angkasa untuk menghibur kelompok astronaut Amerika. Tokoh serupa dari Bali yang juga berperan sebagai pengajar adalah I Wayan Beratha yang karyanya dipakai mengiringi sendratari-sendratari yang diciptakan tim seniman Kokar Bali.
Tokoh karawitan dari golongan kedua adalah Ki Nartosabdo dari Semarang yang juga seorang dalang kondang. Karya-karya Ki Nartosabdo yang dipopulerkannya sendiri lewat rekaman atau pertunjukan wayang dikenal luas karena upayanya memadukan unsur-unsur musikal Jawa, Sunda, Bali (Wandali) dan daerah-daerah lain.
Karya-karya gamelan kontemporer dimotori oleh seniman-seniman, pengajar dan mahasiswa perguruan tinggi seni yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Dua perguruan tinggi seni yang unggul di bidang penciptaan karawitan adalah Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta dan Denpasar, Bali. Penyebaran dan pengenalan karya-karya gamelan eksperimental semacam ini dimulai Dewan Kesenian Jakarta melalui forum Festival Komponis Muda yang pertama kali diadakan tahun 1979, di TIM. Beberapa nama komponis unggulan yang muncul dari forum ini adalah R Supanggah, I Wayan Sudra, Pande Made Sukerta, AL Suwardi, Komang Astita, Nyoman Windia, dan Nano Suratno. Melalui karya gamelan kontemporer, seniman karawitan kita memasuki forum kerjasama antar bangsa. Paruh kedua dekade 1990-an ini R Supanggah menyusun musik untuk pentas teater antar bangsa Lear yang disutradarai Ong Keng Sen dari Singapura dan dimainkan oleh seniman pelaku dari 6 negara; Jepang, Cina, Thailand, Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Komang Astita dan Nyoman Winda menggarap musik pengiring balet modern Bhima oleh penata koreografer Ulf Gadd dari Swedia.
Yang menarik di dekade 1990-an adalah munculnya genre musik tradisi populer "Campursari" yang memadu instrumentasi gamelan dengan keyboard dan alat-alat musik Barat lainnya. Sajian mereka berada di antara musik keroncong dan gamelan Jawa. Salah seorang pelopor di bidang ini adalah Manthous yang rekaman dan pertunjukannya sangat laku di kalangan masyarakat Jawa. Untuk jenis gamelan populer semacam ini di Jawa Barat perlu dicatat Gugum Gumbira dengan Jugalanya. Terakhir pentas disebut karya Jaduk Ferianto yang memanfaatkan dengan pintar berbagai instrumen perkusi daerah yang didominasi gamelan Jawa dan Bali. Karya musik dan penampilan Jaduk bersama kelompok Kua Etnika berada di batas kontemporer dan populer.
Karena fungsinya yang mendua-sebagai sarana upacara dan hiburan-wayang merupakan satu-satunya seni tradisi yang tak lekang diterpa terik mentari. Pada awal kemerdekaan, wayang baru dicipta sebagai alat promosi berbagai pihak. Ada wayang suluh yang mengisahkan masa-masa revolusi dan perjuangan kemerdekaan, wayang wahyu yang bercerita tentang Yesus, wayang kancil tentang dongeng binatang, wayang Diponegoro untuk mempopulerkan pahlawan Diponegoro, dan sebagainya. Ketika Golkar berkuasa, lagi-lagi wayang dikooptasi. Sejumlah pakar dan seniman dari perguruan tinggi seni menuliskan lakon Waringin Kencono atau Beringin Emas, misalnya.
Dekade 1970-an Ki Nartosabdo merajai pasar karena kemampuannya bermain gamelan, menciptakan gending baru, dan kepiawaiannya melucu sepanjang lakon. Tentang figur boneka wayang tidak pernah ada perubahan berarti. Kecuali sebuah upaya oleh perupa Sukasman dari Yogyakarta yang memperbaharui bentuk hiasan, dan wanda (wajah) sejumlah tokoh. Sukasman harus menunggu cukup lama kesedihan seorang dalang memainkan wayang-wayangnya.
Kecenderungan untuk memenuhi permintaan pasar telah memaksa banyak dalang melakukan langkah "kreatif" dari yang wajar sampai yang tak benar. Penggunaan dua layar lebar, sound-system yang membahana, penataan lampu-lampu panggung secara modern, mengundang sederet waranggono, penyanyi dangdut, penari, dan masih banyak lainnya lagi. Ada kecenderungan "anything goes" bisa memikat pemirsa. Wayang kulit purwa sedang berubah dari sebuah ekspresi budaya menjadi produk atau barang dagangan. Dua dalang yang memasuki milenium ketiga ini paling digemari dan mahal adalah Ki Manteb Soedharsono dan Ki Anom Suroto.
Karya atau pementasan wayang eksperimental atau kontemporer yang elite dilakukan oleh seniman-seniman kampus. Pergelaran pakeliran padat, wayang sandosa (STSI Surakarta), wayang listrik (STSI Denpasar, Bali) merupakan sedikit contohnya. Eksperimen pertunjukan wayang yang menarik dilakukan oleh dalang muda I Made Sidia dari STSI Denpasar bekerja sama dengan Ken Deveraux dari Chicago, AS. dengan menggunakan media elektronik dan komputer. Sayang sekali hasilnya yang menarik tak bisa dilihat di Indonesia. Sementara eksperimentasi melaju-walau sporadis dan tergantung undangan-pertunjukan wayang di Bali tetap memiliki fungsi ritual. Kenyataan ini memungkinkan wayang Bali tetap tinggal sebagai ekspresi budaya, tetapi kurang berdaya di pasar.


0 Komentar